Menu

Mode Gelap

News · 22 Okt 2025 23:28 WITA

PDIP Dalami Masalah Utang Proyek Kereta Cepat Whoosh, Hasto: Fraksi Sudah Ditugaskan Kajian Menyeluruh


 PDIP Dalami Masalah Utang Proyek Kereta Cepat Whoosh, Hasto: Fraksi Sudah Ditugaskan Kajian Menyeluruh Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa partainya sedang mendalami persoalan yang tengah mencuat terkait proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh). Ia menyebut, fraksi PDIP di DPR telah ditugaskan untuk melakukan kajian komprehensif terhadap permasalahan keuangan dan tata kelola proyek tersebut.

“Kami sudah menugaskan fraksi, termasuk Pak Haris Turino, untuk melakukan kajian-kajian itu dan menyampaikan sikap,” ujar Hasto di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (22/10/2025).

Hasto menekankan, PDIP ingin mengetahui secara transparan dan mendalam duduk persoalan di balik membengkaknya utang proyek yang disebut mencapai Rp116 triliun. Menurutnya, langkah investigasi internal itu penting agar publik mendapatkan gambaran utuh mengenai kelayakan dan skema pembiayaan proyek transportasi cepat pertama di Indonesia tersebut.

“Karena ini kan berkaitan dengan data, berkaitan dengan bagaimana kelayakannya, bagaimana perbandingannya, di dalam proses itu, sehingga nanti Pak Haris Turino akan menanggapi,” jelas Hasto.

READ  Tiga Terdakwa Didakwa Halangi Penyidikan Kasus Korupsi Besar: Advokat, Direktur TV, dan Buzzer Disebut Bentuk Opini Negatif Publik

Menkeu Purbaya Tegas: APBN Tidak Digunakan untuk Bayar Utang Whoosh

Pernyataan Hasto muncul setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak akan digunakan untuk menutup utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Dalam keterangannya usai menghadiri Rapat Dewan Pengawas Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (15/10/2025), Purbaya menjelaskan bahwa Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memiliki kemampuan finansial untuk menanggung kewajiban pembayaran proyek tersebut.

“Sudah saya sampaikan, tidak akan menggunakan APBN untuk membayar utang Whoosh. Karena Danantara menerima dividen dari BUMN, hampir Rp80–90 triliun per tahun. Itu cukup untuk menutup bayaran tahunan untuk kereta cepat,” ujar Purbaya.

Menkeu menjelaskan, beban pembayaran utang proyek yang mencapai Rp2 triliun per tahun akan dialokasikan dari dividen yang dihimpun Danantara — lembaga holding investasi yang kini mengelola hasil keuntungan dari berbagai BUMN.

READ  Menag Nasaruddin Umar dan Danantara Bahas Penguatan Ekosistem Ekonomi Umat dan Wakaf Produktif

Skema Baru: Danantara Gantikan Peran APBN

Purbaya menegaskan, keputusan tersebut merupakan langkah strategis dalam reformasi tata kelola keuangan negara. Dividen perusahaan pelat merah yang sebelumnya masuk langsung ke kas APBN kini dialihkan ke Danantara, yang kemudian menanggung pembiayaan proyek strategis seperti Kereta Cepat Whoosh.

“Tapi ketika sudah dipisahkan, dan seluruh dividen masuk ke Danantara, Danantara cukup mampu untuk membayar itu. Jadi bukan tidak dibayar, tapi Danantara — bukan APBN,” tegasnya.

Langkah ini, menurut Purbaya, akan menjaga disiplin fiskal nasional, sekaligus memastikan proyek strategis tetap berlanjut tanpa membebani keuangan negara secara langsung.

PDIP Desak Transparansi dan Akuntabilitas

Meski mendukung pengelolaan yang efisien, Hasto menegaskan bahwa PDIP tetap menuntut transparansi dan akuntabilitas penuh atas penggunaan dana dan mekanisme pembayaran utang proyek Whoosh.

READ  ATR/BPN Targetkan 2 Juta Bidang Tanah Tergarap Melalui GEMAPATAS

“PDIP akan bersikap berdasarkan hasil kajian yang objektif dan komprehensif. Rakyat berhak tahu ke mana dana proyek ini mengalir dan siapa yang harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Menurut Hasto, proyek strategis nasional seperti Kereta Cepat Whoosh harus benar-benar memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas, bukan menjadi beban fiskal jangka panjang.

Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) yang diresmikan pada 2023 memang menjadi simbol kemajuan infrastruktur Indonesia. Namun, lonjakan biaya pembangunan dan pembiayaan utang kini kembali menjadi sorotan publik dan parlemen.

Langkah PDIP yang menurunkan tim fraksi DPR untuk melakukan kajian menyeluruh menunjukkan bahwa isu Whoosh kini tidak hanya menjadi soal teknis keuangan, tetapi juga menyangkut akuntabilitas pemerintahan dan tata kelola investasi nasional.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Kapolri Rotasi Sejumlah Pejabat, Kakortastipidkor hingga Kapolres Berganti

28 Februari 2026 - 21:16 WITA

Dirtipidnarkoba Bareskrim: Eks Kapolres Bima Kota Diduga Terima “Uang Keamanan” dari Bandar Narkoba

28 Februari 2026 - 20:57 WITA

Seskab Tegaskan Anggaran Pendidikan 2026 Rp769,1 Triliun Disepakati Pemerintah dan DPR, MBG Tak Kurangi Program Sekolah

28 Februari 2026 - 20:49 WITA

BGN Hentikan Sementara 47 SPPG hingga Hari ke-9 Ramadhan, Temukan Menu MBG Tak Layak Konsum

28 Februari 2026 - 20:41 WITA

Kejagung Ajukan Banding atas Vonis 9 Terdakwa Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah Pertamina

28 Februari 2026 - 20:34 WITA

BGN Luruskan Informasi Alokasi Dana MBG, Rp500 Juta per 12 Hari untuk Setiap SPPG

28 Februari 2026 - 20:21 WITA

Trending di News